Cerita Sex Awal dari Akhir Bagian Tiga – Part 18

Cerita Sex Awal dari Akhir Bagian Tiga – Part 18by adminon.Cerita Sex Awal dari Akhir Bagian Tiga – Part 18Enam – Part 18 Bab IV Awal dari Akhir Bagian Tiga Jadi gimana Bim? Sip. Yuni udah mau diajak, tapi belum tau bakalan maen bareng. Jadi gini, saya maen duluan di kamar. Kamu ajak Icha aja, tar saya smsin jam pastinya. Pokoknya siap. Tar, kamu ajak Icha untuk ngintip, sekalian kamu maenin si Icha, terus […]

tumblr_nvbh3huxi31r90a2to9_1280 tumblr_nvblq3bwFz1uuqmqvo1_400 tumblr_nvblq3bwFz1uuqmqvo2_1280Enam – Part 18

Bab IV
Awal dari Akhir Bagian Tiga

Jadi gimana Bim?
Sip. Yuni udah mau diajak, tapi belum tau bakalan maen bareng. Jadi gini, saya maen duluan di kamar. Kamu ajak Icha aja, tar saya smsin jam pastinya. Pokoknya siap. Tar, kamu ajak Icha untuk ngintip, sekalian kamu maenin si Icha, terus pura-pura jatuh di pintu dan masuk ke kamar. Gimana?
Hm, bisa gak ya? Rumah ente mesti kosong dulu berarti nya?
Bisa dikondisikan ma mennn. Santai.
Okeh. Deal.

==========

Seminggu lagi ke pengumuman hasil UN. Kata pak Doni, pasti semua lulus, UN cuman menggugurkan kewajiban. Dan kemaren anak KM bilang, perpisahan kelas kita mau di Ciwidey. Minjem villa katanya.
Hari itu ke enam sahabat lagi ngumpul di rumah Ima. Sambil makan-makanan seadanya atau lebih tepatnya, makan seluruh makanan yang ada.
Wuih gaya. Mau pada ikut lo pada?
Gak tau Gus, liat waktunya aja nanti. Belum pasti tanggalnya kan?
Ya emang Vi, tapi kata Ima mah ikut aja lah, kita have fun. Udah lama juga gak kumpul-kumpul bareng kan?
Di villa yang deket situ? Lumayan asik sih. Ya, sapa bisa dapet cewek cantik.
Jiah, Bima mah tetep cewek.
Nah, sayang kamu gak bisa bawa Atika. Hahahahaha.
Kamu juga Din, gak bisa bawa Icha.
Bagus kan, jadi kita-kita aja ber enam. Hahahaha.
Lah Revi lagi, 34 siswa lain mau dikemanain?
Gak tau nih. Aneh banget ni anak. Mana masakannya aneh lagi, ini nasi goreng ato nasi berminyak.
Udah deh Bim, kalo gak suka gak usah di makan.
Dimakan ko, tar juga pasti diabisin ama Bima. Ya kan Bim?
Cieee, Rian membela Revi. Suit suitt.
Apaa sih? Revi dan Rian menjawab bersamaan.

==========
Serius mau ikut Lid?
Serius, tapi pengen liat aja dulu. Rame enggak. Kalo enggak mah gak mau.
Gak ko, gak akan rame.
Ah, kamu mah ngomong gitu supaya kita gak ikutan. Kamu emang gak tertarik Gus. Ada Icha kan, kata kamu lubangnya anget dan enak. Terus ada Yuni yang cantik dan putih itu. Masa gak kegoda sih?
Cukup elo Lid buat gue.
Uuuu, co cwiiiittt, cini, cini, peyuk. Aduh, ngapain juga kamu jitak kepala saya?
Jayus.

==========
Minggu ini yu?
Yuni membaca WA dari Bima. Ragu untuk mengiyakan. Hatinya sudah terluka. Namun bukannya pada awalnya hanya suka sama suka. Tanpa ada ikatan hati. Hanya untuk memuaskan birahi. Akhirnya Yuni menjawab, Jam berapa?

==========
Minggu ini jadi Din
sy Ajak si Yuni jam 9an.
Diusahain langsung maen
km standby aja oke?
Udin tersenyum membaca WA dari Bima, membayangkan apa yang akan terjadi.
Siap boss

==========
Riannnn…. uhhhhhhh… oowwhhhhhhhh. Akh, sakit.
Maaf, habis gemes Ka. Dada kamu ini bener-bener ngegemesin.
Idih, udah berapa dada yang Rian remes?
Hmm, berapa ya? Hehehe.
Sebel ah.

Uuuu, nambek, sini sini, mmmmmm. Kembali bibir Rian melumat bibir indah Atika. Menyedot lidah Atika ke dalam mulutnya, dan memainkan langit-langit mulut Atika dengan lidahnya.
Tangannya tetap bergerilya, meremasi sepasang buah dada yang montok dan sekel itu, buah dada yang baru dia pegang. Baru hari ini Atika membiarkan Rian meremas dua bukit kembar itu, belum pernah ada lelaki lain yang melakukannya.
Rian kemudian menidurkan Atika di atas ranjangnya, dan kemudian menindihnya. Mulutnya tetap menciumi bibir dan wajah Atika, tangan kirinya tetap di buah dada kanan Atika, namun tangan kanan Rian kini berada di paha kiri Atika, meremasnya, berpindah ke belakang, meremas pantat indah Atika.
Pinggul Rian ditekankan sejadi-jadinya, penisnya menekan selangkangan Atika. Mereka baerdua menggunakan celana jeans.
Akh, sakit Rian, pelan-pelan. Mmmmppp.

Nanti juga enak sayang. Slurppp. Rian mulai menjilati leher Atika, jilbab hitamnya sudah terbuka di bagian leher, membuat Rian melihat leher jenjang itu, dan sebagian dada Atika yang putih bersih. Ciumannya turun, menjilati dada Atika, dan terus turun, berhenti di buah adada kiri Atika, Rian kemudian melahap buah dada itu, dai luar kaos Atika.
Sayaannnngggggg, akh, geli banget.
Nikmatin aja say, hmmm, enak kan?
Atika tidak menjawab, atau lebih tepatnya, tidak bisa menjawab, dia hanya bisa merintih dan mendesah keenakan, kala Rian kembali melahap kuat-kuat buah dadanya, kali ini yang kanan.
Akh, ah, hah, aaaahhhh, mau, ahhh, Rian udah ah, udah, ahhhhh.
Mau apa? Udah kenapa?

Enggaak. Atika menggelengkan kepalanya ke kiri dan kanan. Hah, hah, udah Rian, gak kuat, mau pipissssssss.
Mendengar itu mana mau Rian berhenti, malah terus dia menekankan penisnya ke selangkanagan Atika dan meremas juga menciumi buah dada Atika, walaupun masih dari luar. Mulutnyapun kembali menyasar leher Atika dan dada Atika, memberi cupangan sedikit di dada itu.

Riannnn, aaaaaaaaahhhhhhhhhhhhh. Atika mengejang, dia mendorong tubuh Rian, badan atas Rian memang terdorong, namun penisnya pun tetap ditekankan pada selangkangan Atika. Masih mengejang, keringat bercucuran, dan jilbabnya sudah acakacakan, akhirnya Atika terhempas, lemas, Rian masih tetap menekan, menggesek, dan bergerak, sampai beberapa saat kemudian, Heeuuuuuu… Rian keluar, menyemprotkan spermanya banyak sekali di dalam celananya sendiri. Malam minggu yang nikmat, pikir Rian.

==========
Hm, ini mah beneran ngajak maen Bim, dijemput, langsung masuk kamar harimau.
Hahahaha, abisan udah kangen berat ama kamu Yun.
Idiiih. Dasar cowok. Eh, sepi banget ni rumah, kan Minggu.
Kan sengaja.
Ih, omes dasar.
Yuni duduk di pinggir ranjang Bima, merapihkan rambutnya. Haus Bim, bagi minum dong.
Siap tuan putri, bentaran okeh. Bima keluar menuju dapur, mengambil botol minuman dan gelas sabil memberitahu Udin kalau mereka sudah ada di kamar.
Nih, minumnya.

Yuni meminum habis dari gelas yang disodorkan Bima. Nah, jadi kita mau ngapain?
Sebelum mau ngapa-ngapain, saya cuman mau bilang maaf ya Yun, beneran. Saya sayang ama kamu Yun, cumang emang waktu kita gak tepat aja. Jangan salah sangka, bahkan dengan Ima juga saya gak bisa jadian ko.
Belum Bima, bukan gak bisa, masa depan gak bisa diprediksi kan?
Hahah, ya kalo gitu mah, mungkin kita juga ada jalan. Sambil berkata itu, Bima mencium leher Yuni, pelan, menghirup wangi tubuh Yubi dalam-dalam.
Aaaahhhh, kamu begitu lembut Bima.

Dan bibir mereka bertemu. Yuni mengambil inisiatif, membuka kaos yang dikenakan Bima, kemudian membuka kaosnya sendiri, BH nya dilepas oleh Bima, buah dada Yuni yang putih mulus menantang untuk segera di lumat. Tapi Bima bermain pelan, bibirnya terus menciumi wajah, bibir, telinga dan leher Yuni, mempermainkan birahi Yuni. Terkadang tanganna meremas bongkahan dada Yuni, turun ke perut ratanya dan kembali meremas, lalu naik lagi ke atas.
Kadang pula lidah Bima masuk ke dalam lubang telinga Yuni, dan kadang menggigit daun telinga juga leher Yuni.
Bimaaa, mmmmmmhhhh…
Setengah jam mereka berciuman, sampai tangan Bima membuka kancing celana Yuni, dan masuk kedalam, menyentuh rambut halus yang ada di bawah sana, dan terus ke bawah.

Udah basah banget sayang, udah mau dientot ya?
Aahhh, jorok ih, aaaakhhhhhhh, iya, mau sayang, pengen ngerasain kontol gede itu lagi, udah lama.
Lah, mmmmmmm, cup, kan ada Satrio sayang.
Beda say, ama kamu lebih, aaakhhhh, nikmat.

Bima kemudian membuka celananya, semua, sampai dia telanjang, penisnya suda mengacung tegang, disodorkannya penis itu ke mulut Yuni, yang langsung dilahap, dijilati, disedot, bahkan Yuni menjilati pelir Bima, menjitali seluruh batang Bima untuk kembali dimasukan ke dalam mulutnya yang mungi, memasukannya dalam sekali.
Yuni terus mengoral Bima, dilain pihak, Udin sudah sampai dengan Icha di halaman rumah Bima, Sepi banget ni rumah, pada ada gak Din?

Ada, si Jawa kalo Minggu jam segini biasanya masih molor. Ayo masuk.
Idih, maen masuk aja, ngetok dulu ke.
Ga papa, udah biasa. Ayo masuk.
Mereka berdua terus masuk, Udin langsung mengajak Icha naik ke lantai dua, tempat kamar Bima berada, belum sampai di pintu kamar, sudah terdengar suara Bima dan Yuni yang sedang bercinta, merintih dan mendesah.
Ih, apa itu, siapa?
Gak taum kita intip.
Gak ah, gak sopan, hayu pulang Udin.
Tar dulu, tunggu bentar. Udin kemudian berjalan perlahan menuju pintu yang sengaja tidak di tutup rapat, terlihat kini Bima dan Yuni sedang dalam posisi 69, Yuni di atas Bima, mengoral penis Bima, dan Bima di bawah, menjilati, menyedot dan memainkan vagina Yuni dengan lidah dan jarinya.
Psstt, Cha, sini.
Enggak. Pelan Icha menjawab sambil menggeleng.
Sini, seru, beneran, sini.
Antara penasaran dan takut, Icha melangkahkan kakinya pelan, tersentak ketika melihat Yuni sedang bergumul dengan Bima. Mereka menonton beberasa saat, nafas mereka sudah terdengar.

Aakh. Terpekik pelan, Icha merasakan tangan Udin meremasi buah dada kanannya. Udin kini memposisikan dibelakang Icha, memeluknya dari belakang. Tangan kanannya meremasi buah dada Icha, dan tangan kirinya sedang berusaha memasuki celana Icha.
Udin, udah ah, entar kalo ketauan gimana, malu. Ssss, iiihhh, Udinnn.
Makanya diem, jangan berisik. Berhasil, tangan kirinya berhasil masuk, vagina Icha sudah ada di genggaman tangannya, jari-jari Udin mulai menari di bibir vagina Icha, dan tangan kanan Udin perlahan mengangkat kaos yang dikenakan Icha, melepas kaitan BH nya, dan kembali meremasi buah dada besar Icha dengan putingnya yang berdiri menantang. Icha merintih dan mendesah tertahan, tidak ingin ketahuan.

Sementara di dalam kamar, kini Bima mulai menggenjot Yuni, penis besar Bima keluar masuk vagina Yuni yang sudah basah. Dalam hati Icha sempat tersirat khayalan, bagaimana kalo penis besar Bima itu memasuki tubuhnya. Memang pesni Udin panjang, dan punya Gusti besar, tapi punya Bima masih lebih besar. Genjotan Bima pun tidah berkurang kecepatannya, stabil, Yuni dia lihat sampai kepayahan, peluh sudah membanjiri tubuh keduanya. Pikiran ini membuat Icha semakin bernafsu, apalagi ketika melihat Yuni mengejang sejadi-jadinya ketika mendapatkan orgasme, dan dia melihat, Bima, memasukan jempol tangan kanannya ke dalam pantat Yuni ketika Yuni mendapatkan orgasme, Icha tidak bisa berfikir lebih jauh lagi, pemandangan yang dia liat, dan perlakuan Udin di buah dada dan vaginanya, belum lagi bibir Udin yang terus memainkan teliganya membuat pertahanan Icha roboh, sebentar lagi dia akan meraih orgasme, Icha tidak ingin mendapatkannya, tapi itu tidak bisa dia tahan, tubuhnya mengeras, otaknya mengirimkan sinyal-sinyal kenikmatan, mengejang.
Ini dimanfaatkan oleh Udin, tahu Icha orgasme, Udin berpura-pura tidak tahan menopang tubuh Icha, mendorong sedikit tubuh Icha sehingga mereka berdua terjatuh mendorong pintu dan memasuki kamar.

Aaaaahhhhhhhh. Icha kaget dan berteriak, posisi tubuhnya di bawah Udin, tangan kiri Udin masih di dalam celana dalamnya, celana jeans dia sendiri sudah terjatuh sampai mata kakinya, dan Yuni sendiri tidak kalah kaget, baru saja mendapatkan orgase yang dahsyat, dan kini dikagetkan oleh Udin dan Icha yang terjatuh, Yuni tidak bisa berkata apa-apa, selain menarik diri dan berusaha menutup dirinya dengan bantal yang ada di kasur Bima.

==========
Revi berjalan seolah-olah menikmati segala jenis pakaian yang ada di etalase, padahal pandangannya kosong. Terus berjalan seperti orang linglung.
Hey, kalo jalan tuh liat-liat.
Hah, eh, oh, Yan, ngapain di sini?
Ngikutin kamu, hehehe, lagi nyari baju.
Owhh, gitu ya?
Iya, kenapa sih? Lesu amat, dah makan belum?
Belum sih, kenapa? Mau nraktir?
Hayu.
Ah, jangan ah, tar ada yang marah.
Hm, komentar umum ah, gak apa-apa, Atika gak bakal marah, tau aja enggak. Ayo, ada yang mau sa omongin juga ama kamu.

Mereka kemudian masuk ke sebuah tempat makan, duduk di meja paling pojok, jauh dari pintu, dan jauh dari orang-orang. Kemudian memesan makanan dan menghabiskannya sambil ngobrol dan tertawa.
Hm, lapar Yan?
Banget, apalagi ada kamu.
Maksudnya?
Jadi nambah nafsu, Hehehe.
Iii, geje deh. Mau ngomong apa?
Hmmmm, gini, besok pengumuman UN. Bentar lagi kita selesai SMA. Okeh, gini. Saya udah telalu nyimpen lama ini, dan keliatannya emang udah gak bisa di simpen lagi. Saya suka ama kamu Vi, dari pertama saya ngeliat kamu, saya udah jatuh cinta ama kamu. Cuman saya gak berani. Sampai beberapa hari yang lalu saya gak peduli dengan perempuan lain yang katanya lebih cantik dari kamu, bahkan saya mutusin untuk jadi ama Atika hanya karena saya rasa, selama tiga taun ini, kamu emang gak ada rasa buat saya, jadi, well, I gave up.
Nah, udah, unek-unek saya udah dikeluarin. Hahahaha, plong deh.
Kenapa Revi Yan?
Kenapa? Karena di hati saya, kamu sempurna.
Revi terdiam, matanya mulai berkaca-kaca, bahkan seperti mau nangis. Melihat ini Rian bingung, Vi, kenapa? Kau gak apa-apa? Hey.
Rian, hah, hidup emang aneh, kamu pengecut gak pernah mau ngomong.
Iya, saya emang pengecut.

Tapi saya juga buta dan gak mau tau. Makasih udah ada buat Revi selama ini, kamu yang paling tau dan paling ngerti. Revi juga sayang ama Rian. Tapi bingung, apa ini hanya kedekatan atau apa? Tapi sebenernya Revi juga suka ama Rian, sayang ama Rian.
Tertundung, keduanya diam seribu bahasa, sampai Rian terkekeh. Mata mereka bertemu, dan mereka tertawa. Tangan Rian meraih tangan Revi, menciumnya, lama. Revi membiarkan hal itu, menikmatinya.

Waktu gak ada di pihak kita ya?
Iya nih, parah.
Ya udah, sekarang kita manfaatin waktu aja yu?
Ngapain?
Mmmmmm, nonton, dan saya anterin kamu pulang.
Okeh.

==========
Gila Lid, gak mau ah, lo jangan macem-macem deh.
Gus, kamu cinta saya?
Banget. Lo tau itu.
Dan saya kini minta kamu untuk ngebawa kita ke rumah Bima, gak perlu sampe ikut-ikutan, saya cuman pengen liat aja jadinya kaya gimana. Ya? Pleaseeeeee….
Kamu itu, nyebelin banget kalo udah memohon kaya gitu. Oke. Tapi cuman liat aja ya?
Lidya tersenyum dan mengangguk, namun dalam hatinya Lidya berkata, Liat aja nanti.

——bersambung——

Author: 

Related Posts