Cerita Sex Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 28

Cerita Sex Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 28by adminon.Cerita Sex Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 28Dark Secret [Setiap Orang Mempunyai Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 28 CHAPTER 20 : LOST IN THE ECHO Part 2 Tadi masih ada iparmu itu, aku takut kejadian seperti kemarin terulang kembali. Dan perlahan, kejadian malam kemarin mulai terlintas dikepalaku, Saat Mirna dan Tasya… Pukul 22.00 Malam, habis ulang tahun Rian. Rian! Tidur dulu, […]

tumblr_nmltpbtDR41u9p44wo9_1280 tumblr_nmltpbtDR41u9p44wo10_1280 tumblr_nn4eszmJrw1ut5og6o1_500Dark Secret [Setiap Orang Mempunyai Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 28

CHAPTER 20 : LOST IN THE ECHO
Part 2

Tadi masih ada iparmu itu, aku takut kejadian seperti kemarin terulang kembali.

Dan perlahan, kejadian malam kemarin mulai terlintas dikepalaku,

Saat Mirna dan Tasya…

Pukul 22.00 Malam, habis ulang tahun Rian.

Rian! Tidur dulu, sudah malam! teriak Mbak Marni dari ruang tamu.

Yah ibu, baru pukul 10, masih main sama Kak Tasya nih, sahut Rian.

Iya nih tante, lagi dikit aja, kata Tasya dengan nada manja.

Besok kan mesti sekolah, Kak Tasya juga mau tidur nanti, kata Marni dengan lembut.

Lagi dikit aja bu, tanggung, rayu Rian.

Iya deh, cuma besok gak dapet uang jajan ya? jawab Mbak Marni sambil tersenyum.

Hahaha, senyum yang menyakitkan untukmu naknak Kataku dalam hati.

Yah ibu, gak seru, jawab Rian. Kapan-kapan lagi mainnya yah Kak Tasya, katanya dengan lesu.
Dengan malas dia beranjak pergi dari ruang tamu dan melangkah kekamarnya.

Mbak tidur duluan ya, dik Galang sama Mirna, kamarnya seperti biasa dibelakang ya, kata Mbak Marni sambil beranjak ke kamarnya.

Sekarang tinggal aku, Tasya dan Mirna diruang tamu. Herman dari tadi sudah masuk kekamarnya.
Ugghhhttt, gag ada acara yang bagus nih, kata Mirna sambil bangkit. Daster tipisnya tersingkap, sehingga untuk sementara, paha mulusnya terlihat.

Iiihhhhh, mama, pahanya kelihatan tuh, kata Tasya sambil menunjuk kearah ibunya.

Biarin, Tasya juga dibilangin ganti celana juga gak mau,jawab ibunya.

Hmmmm, kalau begini, wajar saja jika Tasya seperti ini, pikirku.
Buah jatuh tak jauh dari pohonnya kan?

Iiiihhh, gak malu apa kalau dilihat Om Galang? tanya Tasya lugu.

Kamu sendiri gimana? balik Mirna bertanya.

Ihhhhhh, mama! Tasya kan masih kecil, gak apa-apa juga kalau kelihatan, betul kan om? tanya Tasya tiba-tiba, membuatku gelagapan sejenak.

Ehh, itu…itu…, sebaiknya kamu pakai yang lebih panjang si Sya, kataku netral.

Ihhh, om, gak bantuin Tasya, hufffttt…, kata Tasya.

Ngambek
Alamak, anak dan ibu ini kompak sekali.

Om tidur duluan ya Sya, ngantuk nih, kataku sembari melangkah kekamarku.

Kabur tepatnya.

Eh om, bacain Tasya cerita dong, katanya sambil memegang tanganku.

Aduh, badan saja besar, namun kelakuannya masih seperti anak kecil.

Tasya, kamu itu sudah SMP, masa masih minta dibacain cerita lagi? tanya ibunya dengan alis berkerut.

Emang kenapa kalau sudah SMP ma? Ayo om, kata Tasya sambil menarik tanganku kearah kamar yang biasa dipakai Tasya dan ibunya jika menginap disini.
Kamar ini terletak dibagian belakang, cukup terpisah dari kamar tamu dan dapur. Ada dua kamar disini, keduanya dihubungkan dengan sebuah pintu tembus. Kami masuk kekamar yang disebelah timur. Dibelakangku Mirna mengikuti dengan senyum dikulum.

Waduh!

Om, bacain yang ini ya? katanya sambil mengambil sebuah buku dari balik bajunya.

Eh, darimana kamu dapat buku ginian? tanyaku, terkejut dengan buku yang dibawanya.

Buku apaan mas? tanya Mirna sambil mengambil buku yang ada dipeganganku.

Sejenak Mirna bingung dengan buku yang dibawa Tasya, namun setelah membaca beberapa halaman dengan cepat. Raut pengertian ada di wajahnya.

Sya, siapa yang memberikanmu buku seperti ini? tanya Mirna, lebih karena penasaran daripada marah.

Emang kenapa ma? Pacar Tasya, dia bilang, isinya bagus, tapi kalau baca harus sama dia atau cowok ma, makanya Tasya minta om bacain, jawabnya dengan lugu.

Eh, sejak kapan kamu punya pacar? dengan terkejut Mirna bertanya pada Tasya.

Mama sih, selalu sibuk dibutik, Tasya punya pacar saja mama tidak tahu, kata Tasya sambil merenggut.

Sejenak Mirna terpaku.

Kulihat rasa penyesalan dimatanya.

Namun hanya sejenak.

Eh, jadi pacarmu ngasi buku ini kekamu? tanya Mirna, sekarang dengan nada penasaran dan marah.

Iya ma, sahut Tasya.

Buku kaya gini, belum boleh kamu baca Sya, apalagi sama cowok, lebih tidak boleh lagi, terang Mirna.

Buku seperti ini, berisi hubungan antara pria dan wanita, kamu belum boleh baca, jelas Mirna lagi.

Kalau mama sudah boleh baca?

Kalau mama sudah, jawab Mirna.

Ihhhh, mama curang, oh ya om, Tasya boleh nanya? tanyanya kepadaku. Matanya yang polos menatapku dengan penuh harap.

Nanya apa Sya?

Orgasme itu apa om? tanyanya dengan mata penuh harap.

Glekkkkk…..

Sejenak aku terkejut dengan pertanyaan Tasya. Dengan bingung aku menatap Mirna yang juga terlihat sama bingungnya denganku.

Darimana kamu tahu tentang itu Sya? tanya Mirna. Terdengar lagi dan lagi, nada penyesalan didalam suaranya.

Temen-temen Tasya disekolah selalu cerita tentang itu ma, mainin clitnya biar gitu, ada juga pake tangan, Tasya gak ngerti jadinya ma, rajuk Tasya. Lagi satu ma, masturbasi itu apa ma? Bener enak ma? Temen-temen bilang suka masturbasi sih,,, ada yang sama pacarnya juga ma…., kata Tasya yang membuatku pusing tujuh keliling.

Beginikah anak muda jaman sekarang?

Begitu terbuka.

Begitu bebas.

Pikirku mengenang masa mudaku dulu.

Eh itu, itu…, terbata Mirna mencoba menjawab apa yang ditanyakan anaknya.

Sebaiknya aku pergi dulu Mir, biar kamu bebas jawab pertanyaannya, kataku sambil mngerling kearah Tasya.

Gak mau! Tasya mau om disini! sedikit terkejut aku dengan kata-kata tegas Tasya.

Tasya! Kasi Om Galang istirahat dulu! dengan emosi Mirna membentak anaknya.

Gak mau! Kalau om gak mau bilang, nanti Tasya kasi tau Om Herman dan Tante Marni, kalau om suka nyiksa mama! kata Tasya yang membuat aku dan Mirna terkejut.

Tasya! Kapan Om Galang pernah nyiksa mama? Jangan ngaco kamu! kata Mirna sama-sama emosi.

Waktu Tasya ultah dulu, mama sama Om Galang di kamarnya mama, Tasya denger sendiri kalau Om Galang nampar mama, mama sampai menjerit-jerit waktu itu! jawab Tasya tak kalah keras, yang membuatku dan Mirna terpaku ditempat kami masing-masing.

Waktu itu mama gak ditampar sama Om Galang, waktu itu mama…mama…waktu itu ma..ma…, tidak sanggup Mirna melanjutkan perkataanya. Dia memandangku dengan tatapan meminta pertolongan.
Aku hanya bisa mengangkat bahu, bingung.

Dan apa yang harus kukatakan kepada seorang remaja wanita yang ingin mngetahui tentang hubungan antara wanita dan pria???

Hufffttttt…, kehembuskan nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Tasya.

Om membantu ibumu meraih orgasme, Sya, kataku singkat.

Sejenak tatapan bingung terlihat di wajah Tasya.

Tapi mengapa mama teriak-teriak kesakitan seperti itu? tanya Tasya dengan lugu.

Kupandangi wajah Mirna, dan terlihat wajahnya memerah.

Itu bukan sakit Sya, tapi…tapi sakit nikmat, jawab Mirna sambil menundukan wajahnya.

Iiiihhhh, mama bohong lagi, mana ada sakit nikmat? tanya Tasya ngotot.

Aku dan Mirna saling pandang. Terlihat ekspresi bingung diwajah Mirna, dan kurasa hal yang sama juga terlihat diwajahku.

Jadi, orgasme itu apa om? tanya Tasya ketika kami tidak ada yang menjawab pertanyaannya.

Sambil menarik nafas panjang, Mirna menarik Tasya kesudut kamar dan berbisik ditelinganya. Kulihat ekspresi Tasya berubah-ubah, dari tegang, malu, ingin tahu dan, ekspresi terakhirnya.

Terangsang.

Entah apa yang telah dikatakan Mirna, namun bisa kulihat Tasya memandangku dengan pandangan aneh.

Matanya yang semula polos sekarang berkabut gairah. Pahanya dirapatkan dan saling digesekkan.

Tanda itu….

Tanda………

Kulihat Mirna, setali tiga uang!

Om, sekarang ajarin Tasya ya, orgasme itu seperti apa, kata Tasya dengan senyum polosnya.

Lang, apapun yang terjadi, jangan sentuh Tasya! kata Mirna dibalik gairahnya yang membara.Tasya, kamu hanya boleh lihat saja, tidak boleh ikut apa yang akan mama lakukan, sambungnya lagi.

Perlahan Mirna mendekat dengan langkah yang menggoda, jemarinya perlahan menelusuri sekitar bukit yang membusung tegak didadanya. Kemudian turun kebawah, keujung daster putihnya.

Mir! Apa yang kau lakukan? tegurku.

Bukan. Bukannya aku sok munafik atau apa.

Aku hanya tak ingin gadis semuda Tasya melihat adegan yang sepantasnya dilakukan orang yang sudah menikah!

Sudahlah mas, semua salahku, daripada Tasya melihat dan mencari sendiri apa yang ditanyakannya, yang kemungkinan membahayakan dan merugikan dirinya sendiri, mungkin ini jalan yang terbaik, lagipula, aku telah lama menantikan ini mas, sahut Mirna. Kulihat tekad dimatanya, Tekad yang sama saat pertama kami melakukannya.

Daster putih yang dikenakannya perlahan terangkat keatas, memperlihatkan paha putih yang tanpa noda dan membulat padat. Celana dalam putihnya mengintip malu-malu dari ujung daster yang sekarang mulai tersingkap.

Daster itu sekarang melewati pusarnya, kearah perut yang cukup rata. Dah akhirnya, bukit kembar yang membusung menantang itu terlihat, walaupun masih terhalang oleh bra putih yang terasa tidak cukup menampung keduanya.

Daster itu sekarang teronggok dilantai yang dingin,diantara dua kaki Mirna. Perlahan Mirna melangkah melewatinya. Kulihat wajah Mirna, ada gairah yang panas membara. Walaupun tertutupi dengan sedikit rasa malu dengan anaknya.
Kemanakah hal ini akan berujung?

Kulihat Tasya, wajahnya semakin mengelam oleh gairah. Namun terlihat keingintahuan disana.

Tekkkk….

Suara benda jatuh mengalihkan perhatianku.

Dan ketika kulihat sumber suara, sebuh benda putih terhampar dilantai.

Sebuah bra!

Jika benar dugaanku, maka…

Tak perlu menunggu lama, dengan lengan kanan menututpi bukit kembar itu, Mirna berdiri menantang. Sekarang tangan kirinya turun kebawah, ke tepian celana dalam yang terlihat sudah sedikit ada bercak dibagian tengahnya!

Perlahan.

Celana dalam itu turun, dan terlihat sebuah vagina yang hanya berisi rambut berbentuk segitiga kecil diatasnya.

Tubuh wanita yang matang tersaji didepan mataku.

Bisa kurasakan penisku membesar dan terasa sesak dibawah sana.

Hihihi, rambut punya mama lucu, segitiga, hihihi,tawa Tasya melihat rambut kemaluan mamanya yang tercukur rapi.
Tak mempedulikan perkataan anaknya, Mirna menuju keranjang disebelahku. Pantat bulatnya perlahan menyentuh ranjang. Kakinya dibiarkan mengangkang, sehingga bisa terlihat celah diantara kakinya yang siap menawarkan kenikmatan bagi semua laki-laki.

Tasya, sini, panggil Mirna kepada anaknya yang bengong.

Dengan malu-malu Tasya mendekat dan duduk didepan mamanya yang masih mengangkang.

Ini namanya klitoris,jelas Mirna sambil menyentuh klitorisnya yang masih sembunyi malu-malu.

Ini namanya masturbasi, jelas Mirna sambil menghisap jari telunjuknya dengan mulutnya yang seksi. Kemudian jari yang berlumur dengan air liur itu digesekkan kebagian klitorisnya.

Bisa dengan gesekin tanganmu ke klitoris seperti ini, kata Mirna sambil mempraktekannya.

Ahhh, digesekkan seperti ini, atau bisa juga dimasukin begini, lanjut Mirna sambil memasukkan satu jari kevaginanya yang mulai terlihat basah.

Terus, kata temen-temen Tasya, enakan ma cowok, emang diapain ma cowok ma? tanya Tasya lagi.

Itu…itu…, biar om saja yang tunjukin Sya, kata Mirna sambil menoleh kearahku.

Ayo om, tunjuin dong, masa Tasya aja yang gak tau, temen-temen Tasya bilang enak loh kalau sama cowok, kata Tasya dengan pandangan memelas.

Mir, disini? tanyaku, sedikit ragu.

Iya mas, kata Mirna dengan wajah yang merah padam menahan nafsu yang sudah mendekati puncaknya.

Dengan perasaan ragu aku mendekat kearah Mirna yang masih mengangkang didepan Tasya.

Vagina merah Mirna tersaji didepanku, cairan bening mulai terlihat mengalir turun, kepaha putih mulus dan bulat itu. Kupandang sekali lagi wajah Mirna, dan kulihat dia mengangguk dan berkata.

Sya, ini namanya blowjob atau Cunnilingus, lihat yang bener, kata Mirna sambil menarik kepalaku kevaginanya yang basah. Tercium bau khas wanita yang sedang terangsang. Dengan pelan, aku ciumi daerah diluar bibir vaginanya.

Aahhhhh, massss, perlahan desahan mulai keluar dari bibir Mirna.

Ciumanku beralih ke klitorisnya yang sudah membesar, daging kecil yang sensitif ini mulai kucium dengan pelan.

Mas! Ahhhhh., desahan Mirna makin menjadi saat klitorisnya kuhisap dengan pelan. Cairan bening semakin banyak keluar dari celah vaginanya.

Tangannya semakin kuat menekan kepalaku divaginanya.

Satu jariku kumasukkan ke dalam vaginanya.

Terasa hangat dan sempit.

Tanda kalau vagina Mirna jarang dipakai.

Ahhhh,,,,stttt, mas, lebih keras! kata Mirna ketika tanganku masuk dan mengocok pelan dinding bagian dalam vaginanya. Jariku kutekuk sedikit kebagian atas dan mencari bintik-bintik kecil didinding vaginanya.

Jackpot!

Kurasakan tubuh Mirna menegang ketika kusentuh bagian G-spotnya!
Kugerakkan jariku seperti menggaruk dengan pelan.

Ah mas, sttttt….cepetin!!! kata Mirna dengan sedikit keras.

Bisa-bisa ketahuan kalau seperti ini, pikirku.

Kugeser tubuhku sedikit keatas sehingga tangan kiriku bisa mencapai bibirnya yang tak hentinya mendesah. Kututup mulutnya dengan tangan kiriku, sementara jari tangan kananku masih dengan setia menggaruk vagina Mirna yang semakin basah, cairan vaginanya mengalir dipahanya yang mulus, sebagian menetes diranjang.

Ughht,,hmm,,,,, desisan Mirna tidak jelas karena tanganku masih menutup mulutnya.

Sleppp..slepp..sleppp…

Bunyi jariku yang semakin asyik mengocok cepat dan keras vagina Mirna.

Ugghghttttt,,,,,,hhhmmmmmm..uhhmhmmmmm, desisan Mirna ketika mencapai orgasme pertamanya. Tubuhnya menegang kaku beberapa saat. Vaginanya terasa berkedut dengan keras dan menjepit jariku yang basah kuyup didalam. Kulihat keatas, mata Mirna membelalak hingga hanya bagian putihnya saja yang kelihatan.

Tak lama kemudian, tubuh Mirna melemas, remasan tangannya yang semula dirambutku sekarang berhenti. Desisannya yang tadi keras sekarang berganti dengan dengus nafas yang panjang ketika tanganku sudah tak menutup mulutnya lagi.

Ahhh,,,ahhhh,,ahhhh, i..tu na..manya or..gas..me Sya, kata Mirna dengan nafas memburu.

Iya Sya, itu yang tadi namanya orgasme, kataku dengan pandangan mata yang terpaku pada Tasya yang.

***

Lang! Bengong saja? tegur Herman membuyarkan lamunanku dari kejadian kemarin malam.

Eh, kenapa Her? tanyaku dengan sedikit bingung.

Sudah nyampe, katanya dengan sedikttersenyum.

Lidya POV.

Uh kenyangnya! seru Mbak Anisa ketika kami selesai makan.

Iya nih mbak, masakannya enak, atau perut yang lapar ya? tanyaku.

Mungkin keduanya,hihihi, kata Mbak Anisa. Lumayan sepi yah Lid? tanya Mbak Anisa sambil menoleh kesekeliling kantin.

Mungkin karena waktu sarapan sudah lewat mbak, kataku sambil melihat ruangan kantin yang cukup kosong. Hanya satu orang lelaki yang makan dibelakang kami dan beberapa suster yang terlihat asyik mengobrol disudut kantin.

Mungkin saja Lid, eh, sudah berapa lama pacaran sama Andri? tanya Mbak Anisa.

Eh, itu, sebenarnya kami,, eh…, kataku sedikit tersendat.

Jangan bilang kalian sudah mau nikah? tebak Mbak Anisa dengan wajah tegang.

Gubraakkkkkkkk….

Bukan gitu mbak, tapi aku…aku sudah, aku terdiam. Bingung dengan apa yang harus kukatakan kepada Mbak Anisa.

Jangan-jangan…jangan-jangan!, jangan bilang kamu hamil? Ya tuhan…. Andri..Andrii,, tu anak harus dikasi pelajaran! kata Mbak Anisa dengan cemas.

Mbak, gimana bisa hamil coba?

Ciuman saja gak pernah!

Pikirku.

Dan aku bisa merasakan wajahku memanas ketika teringat ciuman kami yang selalu gagal.

Jadi benar kamu hamil? tanya Mbak Anisa dengan histeris ketika melihat wajahku yang memerah.

Siapa yang hamil Nisa? kudengar suara seseorang dari belakang Mbak Anisa.

Ibunya si-mata-keranjang!

Lidya bu! kata Mbak Anisa dengan bergairah.

Eh,,bu…bu..kan seperti itu, kataku terbata sambil melihat wajah ibunya si-mata-keranjang.

Deg…..

Wajah itu.

Wajah bahagia seorang ibu.

Ekspresi yang sama seperti kulihat beberapa tahun lalu.

Ekspresi wajah ketika melihat Sherly dan aku bersama. Ekspresi yang menghilang ketika Sherly pergi bersama bapak dari rumah seperti kata ibu.

Ekspresi yang kurindukan.

Ekspresi yang tak kulihat lagi sampai maut memisahkan kami…

Perlahan kurasakan mataku memanas, dan akhirnya tak bisa kutahan ketika air mataku mulai mengalir, turun disepanjang wajahku.
Kudengar suara langkah mendekat dan tarikan pelan yang mengangkat tubuhku. Bu Riyanti dengan pelan sekaligus tegas mengangkat tubuhku dan memelukku dengan hangat.

Seperti pelukan ibu.

Seperti pelukan yang telah lama tak pernah kurasakan.

Kulihat mata Bu Riyanti dan terlihat pandangan pemahaman dimata yang balik memandangku.

Oh tidak, salah paham ini semakin jauh!.

Jangan menangis, sudah wajar, kalian sudah sama-sama dewasa, hiburnya.

Air mataku semakin deras mengalir mendengar suara lembutnya.
Sama persis seperti suara ibu dulu.

Sama persis…

Sudah Lid, nanti mbak yang ngomong sama kunyuk satu itu, hibur Mbak Anisa.

Oh iya Nisa, tadi ada polisi yang interogasi Andri, coba kamu lihat sana dulu, kata Bu Riyanti.

Masih di ICU bu?tanya Mbak Anisa.

Sudah diruangan VIP Mawar 101

Iya bu, Lid, mbak kesana dulu ya, kata Mbak Anisa sambil berjalan menjauh.

Iya mbak, balasku dengan suara yang sedikit serak.

Mbak, ada jus wortel? tanya Bu Riyanti ke penjaga kantin.

Ada bu, sahut penjaga warung.

Pesan satu ya, untuk calon mantu saya, kata Bu Riyanti sambil tersenyum manis.

Aduh, gara-gara satu ciuman gagal, urusannya jadi panjang begini!

Andri POV.

Anddriiii

Pura-pura tidak dengar.

Andriiiiiiiii! kali ini dengan volume yang naik setengah kali lipat.

Pura-pura tidak dengar. Lagi.

Andriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii! Dengan volume yang naik beberapa tingkat serta cubitan di tanganku.

Oke, I lose

Ugghhhtttt, kakak ini, baru juga dapat merem bentar, kataku sewot.

Ckckckckc. Ternyata kamu nakal juga Ndriiii, kata si-nenek-lampir sambil berkacak pinggang.

Aduh, gak ada petir gak ada angin, langsung bilang nakal, kakak kesambet ya?

Pura-pura lagi, apa yang sudah kamu lakuin ke Lidya? tanyanya dengan ekpresi yang sukar ditebak.

Kalau mau marah-marah, nanti saja, ngantuk nih, kataku sambil memejamkan mata.

Andriiiiiiiiiiii!

Kenapa lagi si kak? tanyaku masih dengan mata terpejam.

Kamu apain Lidya? tanyanya, sekarang dengan nada marah.

Belum sempat ngapa-ngapain kak, ciuman aja selalu gagal, entah yang diatas gak merestui niat baikku atau bagaimana. Cuma baru tahu kalau dia suka celana dalam putih dan ukuran dadanya sekitar 32b, itu saja, belum sempat yang macem-macem kak.

Kakak marah-marah saja, belum juga dapet ngapain, udah kaya aku ngehamilin anak orang aja! gerutuku.

Dan sungguh diluar dugaanku, ekpresi si-nenek-lampir berubah 180 derajat.

Nah, gitu dong! Jadi cowok harus gentle!

Hah???

Tok..tok..tok

Terdengar ketukan dipintu.

Dengan senyum lebar, si-nenek-lampir menuju pintu dan membukanya.

Eh, Mbak Anisa, suara besar dari Frans terdengar dipintu.

Aduh, satu pengacau datang lagi, sungut si-nenek-lampir.

Eh, bukan adik ya, maksudnya cuma sama kunyuk ini, kudengar kakakku berbicara sama seseorang. Mungkin Lisa tebakku.

Eh iya mbak, suara seorang wanita terdengar. Lisa.

Ndrii, masih hidup? hahaha tanya Frans sambil tertawa.

Kepalamu Frans, teman kecelakaan, lu baru nongol!

Hahaha, handphoneku dari kemarin mati, nih baru dikasi tau Lisa makanya baru tahu kau kecelakaan, katanya sambil tersenyum.

Ada makanan Ndri? Laper nih…, tanya Frans sambil celingukan mencari-cari makanan.

Gila lu, harusnya yang jenguk yang bawain makanan!

Deg

Serasa seperti deja-vu.

Kata-kata ini, beberapa tahun lalu juga pernah kuucapkan. Dengan kondisi yang nyaris sama, namun dengan

Ngelamun aja Ndrii, kata Frans, Kelihatannya dia tahu apa yang aku pikirkan. Gimana? Udah baikan Ndri? tanya Frans lebih lanjut.

Lumayanlah, gimana proyek Frans? tanyaku.

Hmmm, lumayan baiklah, tapi kehilangan Ade dan sekarang kehilanganmu, lumayan terasa, sahut Frans lirih. Kulihat dia seperti menyembunyikan sesuatu.

Huffftttttt…

Proyek tinggal 11 hari lagi.

Kehilangan lead programmer.

Sekarang keadaanku seperti ini.

Kenapa semua harus seperti ini? Bagaimana sekarang?

Frans, ambil laptop di apartemenku, rasanya sambil berbaring disini, aku bisa berbuat sesuatu, pintaku pada Frans.

Eh, Ndri…itu…,itu, sedikit tergagap Frans menjawab pertanyaanku.

Kenapa Frans?

Hmmmm, apartemenmu kemalingan, laptopmu termasuk barang yang hilang, kata Frans pelan.

Author: 

Related Posts