Cerita Panas Berbagi Suami Bule – Part 24

Cerita Panas Berbagi Suami Bule – Part 24by adminon.Cerita Panas Berbagi Suami Bule – Part 24Berbagi Suami Bule – Part 24 CHAPTER IVLAST NIGHT BEFORE HOLIDAY By : Marucil PLAAAKKKKK Aku tidak sengaja melihat ppertengkaran Mas Anji dan Nia pacarnya. Kulihat Nia sampai menampar pipi Mas Anji cukup keras. Keduanya terlihat begitu emosi entah apa penyebab pertengkaran mereka, aku tidak tahu karena aku tidak dapat mendengar suara mereka dari dalam […]

multixnxx- Rena Arai Yuzuha Takeuchi Rena Arai Yu-3 multixnxx- Rena Arai Yuzuha Takeuchi Rena Arai Yu-7 (1) multixnxx- Rena Arai Yuzuha Takeuchi Rena Arai Yu-8 (1)Berbagi Suami Bule – Part 24

CHAPTER IVLAST NIGHT BEFORE HOLIDAY
By : Marucil

PLAAAKKKKK
Aku tidak sengaja melihat ppertengkaran Mas Anji dan Nia pacarnya. Kulihat Nia sampai menampar pipi Mas Anji cukup keras. Keduanya terlihat begitu emosi entah apa penyebab pertengkaran mereka, aku tidak tahu karena aku tidak dapat mendengar suara mereka dari dalam mobil. Kuturunkan tubuhku agar tidak terlihat dari luar, aku tidak ingin terlibat langsung dalam pertengkaran mereka, aku hanya melihat sekilas apa yang terjadi diluar. Kulihat Mas Anji terus menunjuk tanganya kearah Mba Nia, mereka saling mendorong dan terus beradu mulut. Mba Nia berlari menuju mobilnya yang diparkir tak jauh dari mobilku. Matanya sedikit berliang air mata. Ketika Mba Nia Hendak masuk kedalam mobilnya mereka berdua kembali bertengkar. Kali ini entah mengapa mas Anji terlihat begitu sangat emosi, sebelumnya memang Mba nia terlihat mengeluarkan statement yang mungkin menyulut emosi Mas Anji.

PLAAAKKKKK

Mas Anji menampar pipi Mba Nia dangan cukup keras. Aku kaget melihay itu semua karena yang aku tahu Mas Anji bukan tipikal orang yang akan meluapkan emosinya seperti itu. Tetapi sekarang ia terlihat seperti kerasukan setan. Ia seolah tak dapat mengontrol dirinya. Ia luapkan semua emosinya dengan Tindakan. Setelah menampar Mba Nia, terlihat raut muka penyesalan dari Mas Anji, Ia hanya terdiam melihat Mba Niam yang semakin menangis. Mba Nia bergegas masuk kedalam mobilnya lalu langsung menancapkan gas meninggalkan Mas Anji yang terus berdiri mematung. Aku tahu ia telah melakukan kesalahan besar karena telah memukul seorang wanita. Ia begitu menyesal. Lalu tak lama ia masuk kedalam Kosn dengan langkah yang begitu lesu. Ingin sekali aku menanyakan apa yang terjadi atau mungkin menenangkanya. Tapi itu tak mungkin dengan kondisi Mas Anji saat ini tidak mungkin bisa menerima masukan dari orang lain walaupun itu hal positif sekalipun. Aku biarkan saja Mas Anji melangkah. Aku tetap didalam mobil menunggunya masuk terlebih Dahulu.

Ketika kuyakin Mas Anji telah masuk akupun keluar dari dalam mobilku. Kuambil barang bawaanku dibangku belakang dan segera masuk kedalam. Aku benar benar ingin beristirahat. Tulangku seolah lepas dari sendinya. Permainan kemarin memang telah membuatku tak berdaya sama sekali. Aku sudah tidak memiliki tenaga lagi, untuk berjalan saja terasa begitu lemas. Kubuka pintu depan Kosn dan kembali kututupnya. Kumelangkah masuk melewati pintu pintu yang tertutup rapat karena penghuninya sudah pulang keKampung halaman masing masing. Benar benar sangat sepi bangunan ini. Mungkin didalam hanya ada Mas Anji atau Mba Marissa saja, karena mereka berdua memang tidak pernah pulang.

Ahh tak apa dengan begitu aku bisa beristirahat tanpa ada gangguan. Ketika aku hendak masuk kedalam kamarku yang berdekatan dengan ruang kumpul utama. Kulihat ada seseorang yang tengah asik menonton siaran Televisi. Ia menyenderkan tubuhnya ke Sofa. Dari belakang kulihat rambut orang tersebut berearna Silver hitam silver kecoklatan. Rupanya Itu Mba Icha. Ia tengah asik bersantai kakinya ia naikan keatas meja kaca sembali tanganya asik menghisap sebatang rokok mild menthol kesukaanya.

“Halooo mbaaa, aku pulang.” Sapaku.

“Ehh elo Bass, baru balik yaaaah” balasnya singkat.

Akupun mengurungkan niatku masuk kedalam kamar. Kutaruh barang2 ku diatas lantai dan rebahkan tubuhku disofa. Kusandarkan diatas Paha Mba Icha yang hanya menggunakan celana jeas Pendek.

“Gimana kemarin sama Tante Elin?” Tanya Mba Icha
“Ahhh cape mbaaa, ni badan pada pegel semuaa, pijitin sih kenapa” Sahutku.

“Kesenengen Elo Gue pijetin. Kok jam segini baru pulang sih, gue kira diculik lo sama dia” tanyanya.

“Iya tadi siang diajakin makan dulu, terus minta diajak jalan jalan. Habis Itu aku anterin ke Stasiun, makanya jam segini baru nyampe”

“Pantesan, bete tahu Gue sendirian dari kemaren kaga ada temen ngobrol.”

“Lah kan masih ada Mas Anji?” Tanyaku.

“Ahh dari kemaren dia ama cewenya mulu, ya kelues gue ganggu” jawabnya.

“Ohh ya mba tadi mereka berantem loh ” kataku dengan suara lirih sembari membalikan tubuhku menghadap mba Icha.

“Oh yah kok gue gak denger.”

“Iya tadi didepan, bahkan sampe tampar tamparan segala tadi, kenapa ya?”Terangku.

“Lah, biasa lah mereka, padahal tadi siang mereka baru aja oh Ah Uh ophhh”

“Maksudnya mba?” Tanyaku memastikan.

“Yah mereka habis ML, ampe desahanya kenceng banget, mentang mentang gak ada orang”

“Masa sih, tapi tadi kelihatanya mereka berdua marah besar gitu…”

“Udaah aah gak usah ngurusin masalah orang, biar si Anji aja yang nyelesein”

“Bukan gitu, habis gak biasanya tuh Mas Anji sampe marah kayak gitu, yah kan” kataku sambil kembali membalikan badanku (Tengkurep) dan kembali kuletakan kepalaku diatas Pahanya. Mba Icha tak bergeming hanya fokus kepada acara yang ia tonton dari tadi.

“Mbaaaaa”….

“Hmmmmm, kenapaaa”

“Kok Bau Kecut sih…..?” Sambil kuendus aroma yang keluar dari dalam selangkanganya.

“Yah elu bego, gue dari pagi belum mandi Lu tiduran disitu, yah jelas bau laaah.”

“Ihh jorok sih” protesku.

“Bodo amat, weeee, udah awas Gue mau kentut nih” seru Mba Icha menyuruhku mengangkat kepalaku dari Pahanya.

“Duuuuttttt”

“Ihhh kentut beneran, Jorooook ih, cantik cantik Joroook” sambil kututup hidungku dengan telapak tangaaan.

“Yeee, emang orang cantik kaga boleh Kentut yaaah?” Balas Mba Icha.

“Ahhhhhh, baau lagi,” Protesku.

“Udaaah sih nikmatin aja, kan kita harus bersyukur masih bisa Kentut, coba kalau gak bisa hayoooo. Hihihihi” Jelasnya sambil mencoba melepas tanganku dari hidungku.

“Ahhh, nakaal aahhhhhh”

“Eh ituu boneka Spongebob siapa dah Bas?” Tanya mba Icha penasaran sama Boneka yang tadi kubeli.
“Tadi gak sengaja beli”
“Buat Gue kaaan Bas?” Potongnya.

“Iyaaa, emang buat Mba Icha sih, siapa lagi coba disini yang suka ama Sponge Bob.”

“Asiikkk, koleksi baru nih, makacih yah Bastiaaaan, Baik deh kamu”Sahut Mba Icha sembari mencubit lembut pipiku.

Mba icha sangat senang dengan boneka Spongebob yang aku beli. Ia memang maniak terhadap semua hal yang berbau dengan Spongebob. Hampir pernak pernik dikamarnya seperti gelas, jam, Sprai, boneka, Action Figur semua berbau Sponge Bob. Memang sedikit agak aneh seorang wanita yang dikenal agak sedikit garang dan cenderung pendiam ini menyukai hal hal berbau kekanak kanakan. Tetapi apa mau dikata hobi seseorang memang tidak bisa dilarang. Selain hobi mengkoleksi pernak pernik Spongebob Mba Icha juga sangat menggemari Photography. Selain sebagai model ia juga sering bertindak sebagai juru foto. Beberapa kali ia mengajarkanku tentang teknik teknik foto yang benar.

“Eh Mba, besok jadi keJakarta bareng kan?” Tanyaku.

“Yah Jadi lah, kan Gue ada Hunting hari minggunya. Tiketnya juga udah gue beli kok, besok malem Jam 7. Oh iya Bas jadi keinget, nanti gue nginep dirumah lo aja males juga cuma sehari gue nginep dihotel?”. Jelas Mba Icha sambil terus mendekap boneka Spongebob pemberianku.

“Yah boleh aja sih, nanti aku kabarin orang rumah kalau gitu.”

“Asiik, bisa ngirit gue. Makasih yaah” Jawabnya kembali mencubit pipiku dengan dua tanganya.

“Hmmmmm”

“Kenapa Lo Bas, senyam senyum mulu dari tadi gue liat”

“Ah gak apa apa mba”

“Gak apa apa gimana, senyumlu beda kali, kenapa si?” Tanyanya penasaran.

“Ya habis Mba Icha gak seperti yang biasanya aku kenal. Sekarang kelihatan riang banget” Jawabku

“Ah itumah perasaan lo aja kali Bas, gue masih kaya biasanya kok, gak ada yang berubah” Jawab Mba Icha sambil berusaha membuang muka.

“Tapi beneran loh Mba, ini gak seperti Mba Icha yang aku kenal, apa jangan jangan”

“Jangan Jangan apaan? Gara gara kejadian minggu kemaren gitu? Ya gak lah gak ada hubunganya kali sama itu.” Jawabnya ketus.

“Nah ini baru Marissa yang aku kenal, Juteek.”

“Ohh jadi selama ini Lo nganggep Gue Jutek gitu?”

“Emang iya kan,”

“Ya dikit sih, Tapi kaga Jutek jutek amat ah, Elunya aja nganggepnya gitu. ” Sambil mengeluarkan muka super Juteknya.

Ternyata benar ada yang berubah dari diri Mba Icha. Dari jawaban yang ia lontarkan ini ada kaitanya dengan kejadian minggu lalu. Ia memang tidak mengakuinya, tapi dari raut mukanya aku dapat tahu apa yang ia pikirkan. Namu tetap aku tidak akan berharap lebih, tidak sama sekali memikirkan hal itu. Kulihat kedua pipinya mulai merah merona dan ia terus berusaha memalingkan wajahnya dariku.

~***~

Aku mengenal Mba Icha ketika pertama kali aku datang di Kota Jogja dua Tahun silam. Ketika itu Ia dan Mas Anji yang menjemputku di Bandara. Pertama kali aku mengenalnya ia memang sesosok wanita yang cukup misterius. Walau banyak tawa di wajahnya namun lebih banyak wajah garang yang selalu kulihat selama aku mengenalnya. Ia memang tipikal wanita yang sedikit tempramen, dibalik keanggunan dan kecantikannya ada sedikit sosok berbahaya apa bila disulut. Tetapi diluar itu Mba Icha adalah pribadi yang sangat baik. Benar benar sangat baik dan sangat dewasa dalam bersikap.

Beberapa Tahun terakhir Mba Icha aktif pada sebuah Lembaga yang memperjuangkan nasib perempuan. Kesetaraan gender dan kekerasan terhadap perempuan menjadi hal yang selalu ia perjuangkan. Ia selalu membela nasib perempuan yang diperlakukan semena mena. Ia juga menjadi salah satu pemerhati nasib para pekerja seks komersial di daerah Pasar Kembang (Sarkem). Bila melihat sosoknya yang begitu super model, mungkin tidak akan ada yang tahu bahwa dia begitu peduli dengan lingkungan Sosial terutama wanita. Bagiku ia Aktivis Wanita yang begitu tangguh tetapi juga anggun.

Mba Icha adalah seorang lesbian, Sakit hati yang begitu mendalam terhadap lelaki yang pernah ia cintai menjadi penyebab ia menjadi penyuka sesama jenis. Mba Icha pernah mengaku banyak memiliki teman atau pasangan Lesbian, tetapi pasangan yang begitu berarti baginya adalah Tante Ocha. Mereka sudah berhubungan cukup lama, hal itulah yang menjadikan mereka menaruh cinta satu sama lain. Mereka saling membutuhkan dan saling menyayangi. seain sebagai pasangan Lesbi, Tante Ocha juga menjadi seorang sahabat sekaligus menjadi sosok ibu bagi Mba Icha. Tidak seperti tante Ocha yang memutuskan Menjadi Lesbian tetapi masih tetap membutuhkan sentuhan hangat laki laki, Mba Icha benar benar sudah menutup pintu hatinya untuk sosok laki laki. Tidak untuk seks tidak juga untuk Cinta. Baginya bila ia menjatuhkan tubuhnya untuk lelaki ia akan merasa kalah oleh pendiriannya selama ini. Tetapi bukan berarti ia sungguh sungguh membenci seorang lelaki. Ia tetap menghormati seorang lelaki dan tetap mau berdekatan dan berteman dengan laki laki. Seperti ketika ia tahu bahwa Aku dan Tante Ocha memiliki suatu hubungan special, Mba Icha tetap ramah dan baik terhadapku, walau sebetulnya aku tahu persis ia sedikit terganggu akan kehadiranku tetapi tak pernah sedikitpun ia utarakan. Kedewasaaanya membuatnya sedikit lebih mengalah, ia mengganggap bahwa kebahagian tante Ocha adalah kebahagiannya juga. Makanya ia tidak mempermasalahkan ketika waktunya bersama tante Ocha tersita karena Tante labih kerap bersamaku.

Aku ingat betul kejadian beberapa tahun lalu. Ketika itu Tante Ocha berinisiatif untuk mengajak Aku dan Mba Icha untuk berpetualang bersama. Awalnya ia begitu kekeh menolak permintaan tante, tetapi bujuk rayu tante Ocha melehkan hatinya. Namun bukan berarti ia mau berhubungan badan denganku. Kami melakukan Treesome tetapi ia sama sekali tidak mengijinkan aku menyentuh tubuhnya. Pertama kali aku melihat tubuh telanjang Mba Icha hatiku begitu berdetak. tubuh Langsing dan tinggi semampai dapat kulihat dengan jelas namun tak sedikitpun aku boleh menyentuhnya. Ketika aku memompa Vagina tante, ia membelakangiku dan menaruh selangkanganya diatas muka tante Ocha, begitu juga ketika aku menyodok tante dengan posisi Doggy ia bersuha menjauhiku dengan tidur terlentang dihadapan tante sembari Vaginanya dijilati oleh Lidak Tante Ocha. Setelah aku Orgasme aku tiduran sembari melihat dua wanita berbeda usia itu saling menindih, saling menjilat dan saling meremas. Ketika aku tak berdaya barulah Mba Icha mengambil alih tubuh Tante Ocha. Mungkin malam itu adalah kali pertama aku melihat pasangan Lesbi berhubungan seks didepanku. memang agak sedikit aneh bagiku. tetapi aku semakin terbiasa bahkan hingga saat ini kami bertiga sering kali melakukan Treesome tetapi dengan formasi dan rutinitas yang tak jauh berbeda.

Itu mungkin hanya sedikit tentang Mba Icha yang dapat aku ingat. diluar hal tersebut sosok Mba Icha tetap menjadi sosok Kakak yang begitu perhatian dan sering kali mengayomiku dlam berbagai hal.

~***~

Kami berdua kembali terdiam sembari sama sama menonton tv. Mungkin sudah habis kata kata dari mulutku untuk melanjutkan percakapan dengannya. Kulihat Mba Icha seperti tengah memikirkan sesuatu, dahinya ia kerutkan dan menatap kesatu arah. Aku tak tahu apa yang ia pikirkan saat ini.

“Bas elo dah makan belum?” Tanyanya.
“Belum, kalau Mba?” kataku balik bertanya
“Belum juga, mau gue masakin gak” Ajak dia
“Boleeh, tumben nih mau ngemasakin gak kayak biasanya” Tanyaku memastikan
“Yah elah bas, Mumpung gue lagi baik nih, kalau mau nanti masaknya di dapurnya Tante aja yang bahannya banyak”
“Iya deh terserah mba aja” jawabku singkat
“Yah udah lo mandi dulu gih belum mandi kan lo?”
“iya dah deh aku mandi dulu kalau gitu”

“Yau dah ntar lo langsung ke atas aja, gue nunggu disana”
“Lah mba Icha kan juga belum mandi kan?” Tanyaku
“Yaelah gue mah ntaran ah mandinya maleman. Dah lo mandi sono”

Akhirnya aku menuruti semua permintaan Mba Icha. Aku masuk kedalam kamarku meninggalkannya. Aku bergegas masuk kekamar mandi dan membersihkan semua badanku dari keringat setelah seharian aku menemani tante Elin keliling kota Jogjakarta. Tidak lupa aku juga memberihkan pusaka kebangganku, walau sampai saat ini ukuranya tak kunjung membesar tapi aku cukup bangga dengan penisku ini. Semalam saja penisku ini sudah di kulum oleh banyak wanita termasuk seorang artis bernama Zaskia Gotic walau bagiku kulumannya sangatlah payah. Sedikit aku mengingat tentang kejadian semalam. Kejadian yang benar benar tak pernah aku duga. Seusai mandi aku langsung mengeringkan tubuhku dan mengenakan pakaian santai. Aku mengenakan celana pendek berwarna cream dan kaos lengan panjang putih. Sejenak aku membuka HP ku rupanya banyak sekali notifiasi Chating, salah satunya dari Tante Elin yang sedang dalam perjalanan menuju rumahnya di kota Cilacap. Kulihat di kolom friend request banyak sekali pin baru yang ingin berteman. Rupanya itu semua dari orang orang yang datang di pestanya Bang Robert. Aku menerima semua permintaan itu, dan memberikan salam dan terimakasih atas apa yang terjadi semalam. Stelah puas mengirim pesan pada semua kawan baruku itu aku bergegas menuju rumah Tante Ocha untuk menikmati masakan Mba Icha. Perlu diketahui bahwa Mba Icha sangatlah jago dalam mengolah makanan, tetapi dia sangat pelit untuk memasakan sesuatu untuk seseorang. Makanya ketika tadi ia menawarkan untuk memasakan sesuatu aku agak sedikit kaget karena tidak biasanya ia mau.

Kukunci kamarku dan segera bergegas menuju rumah Tante Ocha, Mba Icha telah menunggu disana. Aku menaiki anak tangga , kubuka pintu utama rumah tante Ocha dan langsung dapat ku mencium bau harum masakan. Rupanya Mba Icha tengah asik memasak sesuatu entah apa yang ia masak yang jelas wanginya begitu sedap hingga langsung tercium dari depan. Aku berjalan menuju arah dapur dan kupanggil mba Icha untuk memastikan kedatanganku. ” Mbaaaa, masakaanya enak banget deh sampe kecium ginii”. Setelah aku berteriak tiba tiba

PLEEEEPPP

Tiba tiba lampu diseluruh ruangan mati, aku sedikit kaget karenanya. Aku berusaha meraba tembok dan mencari sakelar listrik mungkin saja tombolnya kendor atau apalah karena kulihat dijendela masih ada cahaya dari luar sana. Tak lama aku menemukan Saklar Lampu ruang tengah rumah tante Ocha, namun ketika aku hendak menyalakan kembali lampu diruangan ini…….

Author: 

Related Posts