Cerita Sex Janur Kuning – Part 2

Cerita Sex Janur Kuning – Part 2by adminon.Cerita Sex Janur Kuning – Part 2Janur Kuning – Part 2 Suster Cantik Cerita ini hanya aku dan kalian yang tahu. Ingat, harus kalian rahasiakan… Beni, Adi dan Bama pun tak kuberitahu. Aku tak ingin mereka merecoki perjalanan hunganku dng suster manis ini. Serapi dan sehalus mungkin kurahasiakan dari mereka. Karena menurut pengalamanku, jika mereka tahu, semua akan jadi berantakan. Balasan […]

multixnxx-Black hair, On top, Asian, Gonzo, Pornstar-0 multixnxx-Black hair, On top, Asian, Gonzo, Pornstar-1 multixnxx-Black hair, On top, Asian, Gonzo, Pornstar-2Janur Kuning – Part 2

Suster Cantik

Cerita ini hanya aku dan kalian yang tahu. Ingat, harus kalian rahasiakan…

Beni, Adi dan Bama pun tak kuberitahu. Aku tak ingin mereka merecoki perjalanan hunganku dng suster manis ini. Serapi dan sehalus mungkin kurahasiakan dari mereka. Karena menurut pengalamanku, jika mereka tahu, semua akan jadi berantakan.

Balasan sms dari Triyati masuk ke handphoneku. Sudah beberapa hari ini kami intens berhubungan dengan sms. Sejak perkenalan kami di rumah sakit tempo hari. Ternyata musibah yang dialami Beni menjadi berkah bagiku. Sekarang walaupun Beni sudah keluar dari rumah sakit, tapi aku kadang mampir kesana pada sore hari. Untuk menjemput pulang Triyati.

Aq shift siang kk.
Jam 1 br ke rs.

Pengirim : Tri
+6281213213341
Pusat pesan:
+62818445009

Dikirim:
2 Januari 2014
09:32:23

Aku kulirik jam digital di handphone yang masih menunjukan pukul 11.30 dan membalas sms dari Tri.

Beep! Kembali ada sms masuk ke handphoneku.

Boleh,
Makan siang dimana k?

Pengirim : Tri
+6281213213341
Pusat pesan:
+62818445009

Dikirim:
2 Januari 2014
09:34:43

Aku tersenyum, dan menekan layar sentuh hanphoneku. Baru mengetik beberapa buruf, sebuah tepukan mendarat di pundakku.

“Cari makan yuk? Gw laper ni.”

Aku menoleh ke belakang mencari pelakunya dan menemukan Adi dengan wajah kelaparan mengenaskan. “Sorry bray, gw udah janji makan siang ama orang lain.”

“Tumben amat, sama siapa? Pasti si suster itu ya? Siapa tuh namanya? Sri?”

“Kagak, bukan. Klien kita, Pak Joko,” aku ngeles dengan ekspresi meyakinkan.

“Bukannya urusan ama PT. Sinar Sejahtera udah deal?” tanya Adi penasaran.

“Udah sih, tapi kan menjalin relasi itu penting,” jawabku nyengir.

“Ohh… ya udah, klo gitu gw ajak si Santi aja lah.”

“Iya, bagus tu, siapa tau Santi jadi luluh sama ajakan loe kali ini. Tresno jalaran seko kuliner.”

“Iya bray, doain gue ya.” Adi melangkah dengan semangat ke arah meja Santi.

Sejenak aku memperhatikannya, penasaran juga, apakah kali ini Santi akan menolaknya lagi atau akan terjadi mujizat Tuhan di kantor ini. Adi berbincang dengan Santi, mulai dengan basa basi menjurus pada sepik-sepik dan jebakan makan siangnya. Santi nampak berpikir seperti biasa dan …..

…. mengeleng sambil tersenyum. Senyum manis yang biasa kulihat apabila menolak ajakan makan siang Adi. Senyum manis yang sama yang menjerat hampir semua lelaki di kantor ini. Kecuali aku dan Beni.

Aku tak sabar menunggu lift ini turun. Aku memandang dengan bosan bayangan mukaku yang tampak sedang kebosanan dipandangi oleh laki-laki yang bosan menunggu beberapa orang yang hendak keluar. Begitu pintu lift terbuka, dengan berlari kecil aku menuju motorku, mengendarainya dan memacu cukup cepat menuju rumah sakit Kasih Ibu, tempat Triyati bekerja.

Tri berdiri menungguku di parkiran rumah sakit. Senyum manisnya menyambutku saat aku membuka helm. Mau makan dimana, kak? tubuhnya condong ke arahku, seolah ingin membisikkan pertanyaannya itu.

Naiklah, kalo kita liat yang enak kita berenti.

Hmmm dia tampak berikir sejenak, telunjuknya menempel di bibir, Oke!

Makan siang hari itu, aku mengajak Tri untuk makan Capcay seafood. Aku tak tahu Tri menyukai seafood. Obrolan kami siang itu mengalir lancar. Di awali dengan topik pekerjaan, hingga berbagai hal yang kami sukai. Tri juga mulai membuka diri padaku. Dia mulai menceritakan adiknya yang sedang menjalani rehabilitasi narkoba. Perjalanan hubungan kami berjalan mulus. Sehingga terkadang aku berpikir, apakah Yang Kuasa sengaja mangirim Tri untukku?

*****J-K*****

Bam, tar siang loe jalan nemuin klien ya? Di PT. Ecosmo Trika Raya.

Ok, Ben, siap. Tapi yang harus gue temuin siapa namanya?

Namanya Pak Alex, kayanya gue punya deh Beni mulai mencari sesuatu di dalam dompetnya, ahh, ini dia kartu namanya. Pokoknya lo harus bisa ngeyakinin dia buat make desain kita di kemasan produknya. Lumayan Bam, kalo ini deal, bisa lah loe liburan ke Sidney.

Njier! Serius loe? Emang Ecosmo produknya apa, Ben?

`Um gue ada contoh produknya.

Mana? Coba gue liat.

Yakin loe mau liat?

Iye, mana?

Mereka jualan ini. Beni menyerahkan produk PT. Ecosmo dan berjalan keluar meninggalkan Bama yang bengong melihat sekotak kondom bertuliskan Econdomic.

*****J-K*****
Iya mbak, saya Bama dari PT. Kereaktif Design, mau ketemu sama Pak Alex bisa? Bama menjawab sapaan receptionist cantik di meja front office.

Sudah membuat janji?

Sudah mbak.

Selamat siang bapak, di depan ada bapak Bama dri PT Kereaktif Design, ingin bertemu. Bibir tipis mbak receptionist bergerak lancar saat mengucapkan kalimat perizinan masuk ruangan atasan yang mungkin sudah ratusan kali dilakukannya.

Ngg Raisa, itu orangnya disuruh nunggu dulu, lima menit lagi baru masuk, saya lagi makan siang, terdengar jawaban dari intercom di atas meja receptionist.

Pak Bama, bisa duduk dulu disana, kata Raisa seraya menunjuk kursi panjang di kiri meja receptionist.

Ya itu mbak? Bama menunjuk kursi yang ditunjuk si receptionist cantik.

Iya pak, yang itu.

Kalo nunggunya gak duduk disana boleh, mbak?

Sebaiknya disana saja, pak.

Enggak, maksudnya saya disini aja sambil maen Angry Bird ato be-be-em-an gitu?

Oww boleh saja, pak.

Kalo sambil browsing boleh, mbak?

Boleh, pak.

Kalo maen Shusi Chop?

Silahkan.

Kalo dengerin mp3?

Itu juga boleh, silahkan bapak melakukan apa saja saat menunggu. Nada suara Raisa mulai berubah.

Beneran ni mbak?

Iya pak, atau bapak tunggu di kursi di sana dan silahkan melakukan apa yang bapak mau.

Kalo gitu disini aja, jawab Bama nyengir, katanya tadi boleh ngapain aja kan? Saya minta nomor hape nya dong mbak?

Alis Raisa tampak menyatu, maksud bapak?

Iya, nomor hape, biar bisa gitu kita sms-an.

Maaf bapak, Raisa menunjukkan punggung tangan sebelah kirinya, Saya sudah menikah.

Bama tersenyum dan memutar badannya. Dia berjalan gontai ke arah kursi sambil membathin, Njier! Binor.

Author: 

Related Posts